Hujan Telah Tiba, Tidak Pengaruhi Aktifitas Petambak Garam

posted in: Berita | 0

Probolinggo – Sudah 4 hari ini mulai tanggal 1-4 Nopember 2018 sebagian wilayah Kabupaten Probolinggo diguyur hujan. Kondisi tersebut dirasakan berbagai macam oleh masyarakat Kabupaten Probolinggo.

Untuk kegiatan pergaraman di Kabupaten Probolinggo, datangnya musim penghujan petanda tidak menguntungkan bagi petambak garam yang mendulang rejeki dengan tergantung pada sinar matahari akibat produksinya mulai berkurang.

Akan tetapi, meskipun sudah  4 hari ini  di guyur hujan, petambak garam di Kabupaten Probolinggo masih memilih bertahan memproduksi garam. Mereka ada yang berspekulasi memproduksi garam. Meski risiko gagal panen akan lebih besar. Sebab hujan sewaktu-waktu bisa turun.

Suparyono petambak garam asal Desa Kalibuntu Kecamatan Kraksaan mengaku akan tetap memproduksi garam selama masih ada panas. Di tambak kami sudah menerapkan teknologi rumah garam atau garam on-of.  Teknologi ini sudah diterapkan sejak akhir tahun lalu dan hasilnya sangat bagus. Air tua dari proses penguapan kami tampung di tandon dan kami olah menjadi garam.

“Metode garam on-of  sudah terbukti dan telah memperoleh penghargaan inovasi daerah di Kabupaten Probolinggo ataupun di level Provinsi. Kini kegiatan pergaraman tak harus bergantung pada musim. Pasalnya, dengan memberi atap plastik, tetap bisa terus berproduksi garam meskipun musim hujan., tegasnya

Hal senada diungkapkan pula oleh Iskandar Zurkanaen, petambak garam asal Desa Asembagus Kecamatan Kraksaan mengaku akan tetap memproduksi garam selama masih ada panas. Harga garam masih bagus, saat ini harga garam di Probolinggo berkisar Rp 2.000 sampai Rp 2.200 ribu per kilogram. Jika panen berhasil, petani bisa meraup keuntungan setidaknya sampai Rp 1 juta per ton setiap minggunya.  Produksi garam baru akan kami hentikan setelah memasuki puncak musim penghujan, tegasnya.