Masyarakat Pesisir Probolinggo Dilatih Penanganan Mamalia Laut Terdampar

posted in: Berita | 0

TONGAS – Perairan Indonesia merupakan salah satu jalur migrasi mamalia laut temasuk Hiu Paus. Di wilayah perairan Probolinggo Hiu Paus selalu muncul pada setiap tahun mulai bulan Januari sampai bulan April. Keberadaan spesies tersebut di Perairan Probolinggo selalu menarik perhatian masyarakat.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menetapkan perlindungan penuh Hiu Paus. Penetapan tersebut melalui Permen KP No 18 Tahun 2013. Dengan ditetapkannya tersebut, Hiu Paus tidak boleh ditangkap atau dimanfaatkan segala bagian dan turunannya.

Saat ini terdamparnya hiu paus semakin sering terjadi. Sejak tahun 2012 sampai 2017 tercatat 20 kejadian terdampar. Bukan saja terdampar, tetapi terdapat kejadian dimana ikan tersebut terjerat jaring ataupun sengaja ditangkap oleh nelayan, dan akhirnya ikan tersebut mati.

Menanggapi hal tersebut, UPT Pelatihan Teknis Pengelolaan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan (UPT PTPSKP) Dinas Dinas Kelautan dan Provinsi Jawa Timur bersama Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Probolinggo melaksanakan Bimtek penyelamatan mamalia terdampar di Kabupaten Probolinggo yang diadakan pada Rabu-Kamis (14-15/3/2018). Kegiatan tersebut dihadiri 40 orang perwakilan POKMASWAS se Kabupaten Probolinggo.

Rabu pagi (14/3/2018) pukul 08.00 WIB Bimtek penyelamatan mamalia terdampar di Kabupaten Probolinggo di Buka oleh Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Probolinggo, Dedy Isfandi. Tempat Pelaksanaan Bimtek di Rumah Makan Rahayu Probolinggo dengan agenda penyampaian materi dari Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar dan Dinas Perikanan Kabupaten Probolinggo. Untuk hari kedua dilaksanakan pada hari Kamis (15/3/2018) di Pantai Bahak, Desa Curah Dringu Kecamatan Tongas dengan materi praktek lapang penyelamatan mamalia terdampar .

Agung Purwa selaku pemateri kegiatan dari Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar menjelaskan dalam materinya mamalia laut terdampar adalah kejadian dimana seekor atau lebih mamalia laut terhempas ke daratan, pantai atau perairan yang lebih dangkal baik dalam keadaan hidup atau mati dan tidak bisa atau kesulitan untuk kembali ke perairan yang lebih dalam/habitat aslinya. Penyebab terdamparnya mamalia laut (paus dan lumba-lumba) diantaranya adalah : penggunaan sonar bawah laut dan polusi suara (seismik) yang mengganggu sistem navigasi, perburuan mangsa sampai ke perairan yang dangkal, karena terluka dan karena sakit.

Kejadian terdamparnya mamalia laut di perairan Indonesia cukup sering terjadi, luasnya perairan Indonesia dan minimnya pengetahuan masyarakat dan pemerintah daerah tentang mekanisme penanganan mamalia terdampar menyebabkan lambannya kegiatan penanganannya dan bahkan tidak jarang berakhir dengan kematian, tambah agung.

Sementara itu Kepala Bidang Perikanan Tangkap pada Dinas Perikanan Kabupaten Probolinggo Wahid Noor Azis yang ikut serta dalam kegiatan tersebut menyampaikan Bimtek penyelamatan mamalia terdampar di Kabupaten Probolinggo sangat perlu sekali dilaksanakan karena bisa menjelaskan langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam upaya penyelamatan mamalia laut yang terindikasi terdampar dan maupun yang sudah terdampar sehingga dapat digiring kembali ke perairan dalam kondisi hidup, termasuk langkah-langkah penanganan apabila mamalia yang terdampar sudah dalam keadaan mati.

Masyarakat pesisir probolinggo harus mengetahui dan menjaga ikan langka yang dilindungi oleh pemerintah agar keberadaannya tetap lestari, tegasnya.